5 Miskonsepsi Aksesibilitas Website

5 miskonsepsi aksesibilitas website

5 Miskonsepsi Aksesibilitas Website

Meskipun aksesibilitas web bukan merupakan konsep baru, begitu banyak topik pengembangan dan strategi website yang sering diabaikan. Oleh karena itu, banyak miskonsepsi aksesibilitas website yang masih dipercaya. Beberapa miskonsepsi tersebut justru malah menghambat pertumbuhan bisnis dan organisasi.

Penting halnya untuk mengetahui bahwa miskonsepsi aksesibilitas web memang berdasarkan beberapa fakta. Contohnya saja, website dengan desain menarik, aksesibilitas tinggi, dan kaya informasi dulunya sulit untuk dibuat. Namun, dengan kemajuan teknologi seiring dengan berjalannya waktu, hal tersebut bukan lagi menjadi masalah. Semua website hendaklah mudah untuk diakses, meskipun pembuatannya memang fokus kepada satu atau lain hal. Berikut adalah miskonsepsi aksesibilitas website yang paling sering dipercaya oleh banyak orang.

Orang Difabel Tidak Menggunakan Internet

Berlawanan dengan anggapan umum, orang yang mempunyai keterbatasan fisik menggunakan internet. Justru mereka sering mengandalkan internet dibanding dengan orang pada umumnya. Contohnya saja orang yang menderita paralisis akan mengandalkan online shopping untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa harus meninggalkan rumah untuk berbelanja. Data menunjukkan bahwa 20% dari pengguna internet mempunyai keterbatasan.

Aksesibilitas = Website Yang Membosankan

Dulunya memang sulit untuk membuat desain web yang kompleks sekaligus yang mempunyai aksesibilitas tinggi. Contohnya saja, teknologi pembaca layar (screen layer) dulunya hanya mampu membaca secara horizontal, sehingga halaman web berkolom akan memunculkan permasalahan aksesibilitas. Oleh karena itu, banyak website yang memfokuskan desain web kepada aksesibilitas. Sehingga desain bukan merupakan prioritas utama.

Teknologi yang telah berkembang telah lama memecahkan permasalahan ini. Pembaca layar telah berkembang, sama seperti teknologi web seperti CSS, browser, dan XHTML. Sehingga aksesibilitas sekarang bergantung pada kode dan desain yang sederhana. Namun, desain sederhana tidak sama dengan desain yang membosankan.

Nyatanya, sulit untuk membedakan antara aksesibilitas dan user experience yang baik. Komponen desain yang sama akan membuat website mudah digunakan untuk pengguna tanpa dan dengan disabilitas.

Website Versi Text-Only Solusi Yang Tepat

Website versi text-only tidak memiliki gambar maupun grafis dan biasanya hanya terdiri dari layout satu kolom dengan penggunaan warna minimal dan navigasi yang sederhana. Banyak yang menganggap untuk mengatasi permasalahan aksesibilitas cukup menghilangkan gambar dan grafis yang ada. Padahal solusi tersebut dapat berakibat fatal.

Orang dengan disabilitas menggunakan browser yang sama seperti yang digunakan oleh pengguna tanpa disabilitas. Mereka tidak menggunakan browser text-only. Jika anda membuat 2 versi website: text-only dan normal, kemungkinan anda akan kehilangan beberapa fitur pada versi normalnya.

Aksesibilitas Web Mahal dan Sulit

Memulai membuat aksesibilitas web memang terlihat seperti tugas yang besar, namun besar tidak sama dengan sulit. Anda akan mempunyai banyak tumpukan tugas untuk belajar mengenai aksesibilitas web. Oleh karena itu, investasikan dana anda pada jasa pembuatan website terpercaya untuk aksesibilitas web yang stabil. Investasi aksesibilitas web akan terbayar dengan meningkatnya trafik website anda.

Aksesibilitas Tanggung Jawab Developer Web

Aksesibilitas memang banyak bergantung pada coding yang bagus. Namun, aksesibilitas tidak hanya bergantung pada hal tersebut. Banyak hal yang mempengaruhi kemudahan akses web selain coding. Editor, desainer, dan manager pun terlibat dalam aksesibilitas web. Developer bertanggung jawab untuk memastikan semua tabel data tepat, namun pembuatan deskripsi data adalah tugas editor. Kolaborasi tugas menjadi peran penting untuk jalannya aksesibilitas web.

 

Tags:
No Comments

Post A Comment